Beranda Sudut Pandang Pemimpin Lemah

Pemimpin Lemah

91
0
BERBAGI

Wah, kacau Yoz…, semua mau di depan dan ingin di kedepankan. (Padahal) kepemimpinan juga lemah, tak becus ngatur lalu-lintas tata organisasi sehingga jadi tak karuan, ujar seorang kawan yang tak sengaja jumpa di sini.

Aih…, tak mungkinlah bro, jawabku. Saya lihat di sana itu sekumpulan orang-orang hebat, masak jadi tak karuan.

Iya, jawabnya dengan mimik serta gesture tubuh sedemikian rupa, seperti ingin menegaskan bahwa apa yang dia katakan memang demikian adanya.

Dia mencontohkan, antara si-A dengan si-B sudah gontok- gontokkan, begitu juga yang lain; yang ekor seolah jadi kepala, yang kepala mendem saja, isi perut pun memburai ke mana suka.

Kalau saya boleh saran, ujarku, abaikan saja semua dinamika itu, fokuslah pada tujuanmu masuk dalam medan ini. Raih kekuasaan politik sebagaimana targetmu. Tanpa itu, kau hanya akan jadi mainan orang saja, kecuali kalau logistikmu gagah sehingga bisa membeli loyalis-loyalis—itu pun suatu saat akan pergi meninggalkanmu tatkala kau tak lagi mampu mengcover kebutuhan mereka.

Berkenaan dengan komunitasmu, maaf saya tak mau ikut membicarakan soal yang daerah, saya lebih suka bicara tentang yang di pusat sana. Dan maaf ini, karena berkenaan dengan orang yang dekat denganmu; meski saya tak terlalu sering berinteraksi dengannya, tapi sedikit banyak tahu watak dia.

Pernah dalam sebuah diskusi kecil berkenaan dengan taktik di tempat kita ini, tak segan dia menampakkan arogan dengan tak sabar mendengarkan pemaparan tentang program yang targetnya cukup terukur, dia potong pembicaraan dan mementahkan dengan argumentasi yang didasari pragmatis transaksional. Dia tak pernah peduli tentang menang nanti tapi menang kinilah yang menjadi target dan sasarannya.

Jadi, jangan pernah berharap bahwa target muluk yang dia kemukakan itu akan terwujud, itu hanya bualan dari seorang demagogi. Dia tidak pernah bertarget menang bersama, dia hanya peduli pada menangnya dia.

“Lalu untuk apa dia masih berkeras mengangkangi organ ini?” tanyanya.

Ada semacam sinergisitas antara dua kepentingan; yang pertama bagi dia, ini sebagai upaya untuk mempertahankan dan mengamankan menang yang sudah dia genggam. Bayangkan, hanya dalam hitungan bulan dengan modal yang tak berarti dapat meraup dan menggelapkan segitu banyak uang; dan yang kedua adalah hidden agenda dari pihak yang membonceng dia untuk ke depan akan menguasai komunitas

ini sebagai kendaraan politik bagi mereka yang sudah tersingkirkan dari komunitasnya terdahulu.

Jadi, yang bersikeras untuk tetap mengangkangi organ ini bukan hanya dia seorang, tapi juga pihak-pihak yang membonceng padanya. Ada juga sebahagian kecil orang- orang lama baik yang tadinya sudah terbuang atau pun belum tersisih yang ikutan gerbong, lebih sekadar untuk dijadikan bumper yang terhadap mereka diberi sekadar remah-remah menangnya.

Celakanya, mereka yang di tiga kelompok ini plus kelompok yang satunya lagi, sama tak peduli bahwa perseteruan yang berlarut kian mendegradasi kepercayaan massa rakyat. Basis memang sudah tak jelas, hanya berharap pada floating mass, tapi mencitrakan sebagai komunitas yang tak layak dipercaya…

Sekali lagi, maaf ini jika tak berkenan, dan jangan pula menyurutkan langkahmu dalam menatap masa mendatang.

Yozi Rizal