Beranda Sudut Pandang Nakhoda dan Juru Mudinya

Nakhoda dan Juru Mudinya

229
0
BERBAGI

“Bang saya sering mendengar petuah yang mengatakan bahwa tatkala sedang meniti buih, mengarungi laut, karena tak mungkin merubah arah angin maka aturlah arah kemudimu agar bisa menepi. Pertanyaan saya, jika saya sebagai nakhoda sudah tak bisa lagi mengarahkan juru mudi, yang bahkan marah tatkala kesalahannya dikoreksi, hal apa yang sebaiknya saya lakukan?”

Mendapat pertanyaan yang demikian, buru-buru saya jawab,”Mohon maaf adinda. Saya bukanlah seorang konselor, terlebih berkaitan dengan pernikahan. mungkin ada baiknya kamu temui orang yang lebih senior dan sudah lebih teruji biduk rumah tangganya…’”

“Abang ini sudah saya anggap kakak sendiri. saya percaya abang, makanya saya bertanya sama abang,” katanya.

Didesak begitu, akhirnya setelah menghirup napas panjang saya bilang,”Adinda, hemat saya, sesungguhnya kamu sudah tahu jawaban dari pertanyaanmu itu. tapi baiklah, jika kamu mendesak, maka jawabku adalah: dirimu pimpinan di itu perahu, jika juru mudi mu sdh bersikap demikian, maka itu adalah tanda-tanda bidukmu akan segera karam. tinggal dua pilihan; jika kau ingin selamat sendiri, maka segera tinggalkan itu perahu, tapi jika kau sayang dan ingin menyelamatkan seisi perahu maka ambil sikap tegas terhadap juru mudimu.”

“Terimakasih bang,” katanya,”doakan saya agar memperoleh jalan terbaik.”

“Selalu adinda, selalu,”timpalku.

Dia pun berlalu tanpa bisa menyembunyikan raut muka nelangsa.

Takut salah dalam memberi advis, buru-buru ku minta bantuan seorang kawan utk lakukan assessment terhadap kawan yang menseandaikan diri sebagai nakhoda tadi.

Yozi Rizal